Ekonom: The Fed diprediksi tahan suku bunga imbas serangan Iran

Jadi ini skenario di mana diperkirakan harga minyak akan naik, production cost naik, inflasi naik dan ini akan memengaruhi pemulihan di AS

Jakarta (ANTARA) - Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Marie Elka Pangestu memproyeksikan, Bank Sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga acuan lebih lama lagi sebagai imbas dari serangan pesawat nirawak (drone) Iran ke Israel pada Sabtu malam (13/4).

Menurutnya, kemungkinan langkah The Fed untuk menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 persen merupakan satu dari berbagai efek domino lain seperti naiknya harga minyak dunia, harga emas, hingga menguatnya dolar AS.

"Jadi ini skenario di mana diperkirakan harga minyak akan naik, production cost naik, inflasi naik dan ini akan memengaruhi pemulihan di AS, memperlambat penurunan suku bunga yang harusnya terjadi di second half of this year," ujar Marie dalam acara 'Ngobrol Seru Dampak Konflik Iran-Israel ke Ekonomi RI' yang diadakan oleh Eisenhower Fellowships Indonesia Alumni Chapter secara virtual di Jakarta, Senin.

Senada, ekonom sekaligus mantan Menteri Riset dan Teknologi RI periode 2019 -2021 Bambang Brodjonegoro juga menilai The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama lagi karena dampak dari eskalasi konflik Timur Tengah.

Menurutnya keputusan tersebut secara tak langsung juga akan turut berdampak terhadap nilai rupiah dan tantangan bagi perekonomian Indonesia.

"Intinya secara eksternal memang kita akan menghadapi tantangan yang serius, dan ini yang bisa membuat rupiah menjadi tertekan," kata Bambang.

Dia menilai, sebagai langkah antisipasi dampak suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap melakukan intervensi, namun tiak menggunakan cadangan dolar AS karena akan berakibat fatal.

"Kalau misal BI menaikkan suku bunga barangkali efeknya tidak terlalu kuat, karena memang yang kejadian adalah dolar menguat terhadap semua mata uang akibat tingkat bunga yang tinggi. Ditambah sekarang gara-gara Iran-Israel ini investor akan mencair save haven. Tempat paling aman itu selalu dua, satu US dollar, satu US treasury bond," pungkasnya. ​​​​​

Adapun kondisi global tengah berhadapan dengan ketegangan konflik antara Iran dengan Israel. Permusuhan terbaru antara Iran dan Israel dipicu serangan terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April lalu.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menembakkan puluhan rudal balistik dan ratusan drone ke Israel pada Sabtu malam (13/4).

Serangan itu, menurut Israel, berhasil digagalkan dan hanya mengenai sebuah pangkalan udara militer di Israel, tetapi tidak menimbulkan kerusakan serius.

Atas kondisi tersebut, Indonesia menyatakan keprihatinan atas eskalasi situasi keamanan di Timur Tengah dan menyerukan agar Iran dan Israel menahan diri.

“Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB segera bertindak untuk menurunkan ketegangan dan terus berupaya menciptakan perdamaian di Timur Tengah,” kata Kementerian Luar Negeri RI melalui media sosial X pada Minggu (14/4) malam.
​​​