Tokyo (ANTARA) - Indeks saham di seluruh Asia mengalami kejatuhan pada perdagangan Rabu pagi, memperpanjang kerugian semalam di Wall Street di tengah kekhawatiran atas resesi, inflasi dan harga minyak yang tinggi, yang juga mendorong mata uang safe haven lebih tinggi.

Nikkei Jepang turun 1,01 persen pada awal perdagangan, sementara indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang jatuh 1,1 persen terseret lebih rendah oleh saham Australia (ASX 200) yang merosot 1,29 persen, dan indeks KOSPI Korea berkurang 1,57 persen.

Saham Asia telah mengakhiri sesi sebelumnya dengan lintasan positif setelah China mengumumkan pelonggaran persyaratan karantina untuk penumpang yang masuk, dalam apa yang dilihat oleh beberapa pengamat sebagai relaksasi terbesar sejauh ini dari strategi "nol COVID". Tapi dampaknya mereda pada perdagangan Rabu.

"Tak pelak, pasar cenderung bereaksi berlebihan terhadap berita semacam ini," kata Carlos Casanova, ekonom senior di UBP di Hong Kong. "Agar itu berkelanjutan, kami benar-benar ingin melihat langkah-langkah ini terwujud dalam pembukaan kembali yang sebenarnya."

Saham-saham unggulan China (CSI300) yang mencapai level tertinggi empat minggu sehari sebelumnya, turun 0,6 persen, sementara indeks acuan Hang Seng Hong Kong merosot 1,3 persen.

Kerugian di Asia mengikuti hari yang bergejolak di pasar AS, dengan indeks S&P 500 turun lebih dari 2,0 persen setelah data menunjukkan kepercayaan konsumen AS turun ke level terendah 16-bulan pada Juni, karena kekhawatiran inflasi yang tinggi dapat menyebabkan ekonomi melambat secara signifikan di paruh kedua tahun ini.

Kekhawatiran baru atas potensi resesi global mengirim investor ke mata uang safe haven dolar, dan indeks dolar tetap kokoh di 104,4.

Euro turun 0,6 persen terhadap greenback semalam, dan sedikit berubah di awal Asia di 1,0529 dolar. Yen Jepang berdiri di 136,03 per dolar, tidak jauh dari level terendah 24 tahun minggu lalu di 136,7.

Yen telah tertekan karena bank sentral Jepang (BOJ) mempertahankan kebijakan moneter yang longgar bahkan ketika bank-bank besar lainnya melakukan pengetatan, poin yang ditegaskan kembali oleh gubernur BOJ Haruhiko Kuroda pada Rabu.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun datar di 3,1697 persen.

Harga minyak turun kembali sedikit setelah tiga sesi naik, tetapi ketatnya pasokan global menopang pasar. Sebuah laporan semalam menunjukkan bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak dapat meningkatkan produksi secara signifikan dalam waktu dekat.

Minyak mentah berjangka Brent turun 0,53 persen sejauh hari ini menjadi 117,35 dolar AS per barel. Minyak mentah AS turun 0,37 persen menjadi diperdagangkan di 111,39 dolar AS per barel.

"Saya pikir harga-harga kemungkinan akan tetap tinggi," kata Casanova dari UBP. "Tapi saya tidak berpikir bahwa kita akan melihat limpahan yang signifikan ke kelas aset Asia lainnya, tidak termasuk obligasi potensial untuk beberapa negara yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi."

Emas di pasar spot naik tipis, menguat 0,15 persen menjadi diperdagangkan pada 1.822,48 dolar AS per ounce.