Euro Loyo Akibat Harga Gas, Dolar AS Bertahan di Level tertinggi 20 Tahun

Bisnis · 06 Jul 2022 722 Views

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di kisaran level tertinggi dalam 20 tahun terakhir pada awal perdagangan hari ini, Rabu (6/7/2022), menyusul pelemahan euro di tengah kenaikan harga gas dan ketidakpastian politik menyusul kekhawatiran resesi.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,12 persen atau 0,13 poin ke level 106,405 pada pukul 10.07 WIB.

Dolar juga menguat setelah euro dan poundsterling melemah karena harga gas yang lebih tinggi. Euro berada di US$1,0262, hanya sedikit di atas level terendah semalam di US$1,0236, terlemah sejak akhir 2002.

Sementara itu, poundsterling juga diperdagangkan melemah tipis di US$1,1965, tak jauh dari level terendah intraday dalam 18 bulan terkahir. Sementara itu, dolar Australia berada di bawah tekanan di US$0,6816.

Kepala penelitian pialang Pepperstone Chris Weston mengatakan pelemahan euro diakibatkan oleh reli harga gas alam Eropa yang melonjak dua kali lipat dalam 16 hari terakhir. Hal ini memaksa Bank Sentral Eropa untuk melakukan tindakan guna menjaga mata uang.

“Tidak ada alasan untuk menyimpan euro untuk investasi saat ini. Tidak ada yang membeli euro selain hanya sebagai perdagangan," kata Weston, seperti dilansir Antara, Rabu (6/7/2022).

Weston melanjutkan, ECB berada dalam tekanan karena perlunya menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Di sisi lain, Jerman mengalami defisit neraca perdagangan di Jerman dan pertumbuhan  melambat.

“Ini bahkan bukan masalah resesi, ini adalah pertanyaan tentang seberapa dalam dan seberapa lama resesi itu berlangsung," lanjutnya..

Pedagang mengatakan pesanan dolar besar di awal perdagangan London memicu reaksi berantai dan mempercepat penurunan euro saat menembus level terendah sejak 2017.

Namun penurunan euro terhadap pound jauh lebih tenang, tergelincir hanya 0,2 persen pada Selasa (5/7/2022), karena sterling dilanda gejolak politik baru. Perdana Menteri Boris Johnson mendapat surat setelah pengunduran diri dua menteri senior kabinet Inggris, menteri keuangan Rishi Sunak dan menteri kesehatan Sajid Javid.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of DCFX and does not mean that DCFX agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the DCFX, DCFX does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend