Rupiah Tembus Rp15 Ribu per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

idntimes · 06 Jul 2022 1.8K Views

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah hari ini kembali melemah atas dolar Amerika Serikat (AS) dan bahkan telah menyentuh level Rp15.000-an. Pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp15.022 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah yang begitu dalam tersebut merupakan imbas dari belum bangkitnya pertumbuhan ekonomi global pasca Rusia menghentikan ekspor gas alam.

Hal tersebut tidak hanya memengaruhi perekonomian Eropa, melainkan juga di AS yang memang mengandalkan minyak dan gas alam dari Rusia.

"Di AS sendiri kita tahu bahwa dampak dari embargo Rusia terhadap minyak dan gas alam dan hasil bumi lainnya sangat berdampak terhadap AS. AS sendiri kita tahu bahwa di sana terjadi inflasi cukup tinggi saat ini," kata Ibrahim, kepada IDN Times, Rabu (6/7/2022).

1. Bank Sentral AS akan naikkan suku bunga bulan ini

Oleh karena itu, guna mengekang inflasi yang terjadi, Bank Sentral AS atau The Fed bakal menaikkan suku bunga pada Juli ini.

"Ada kemungkinan besar di bulan Juli ini, saya tidak tahu apakah minggu ini atau minggu depan, Bank Sentral AS akan mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin, tujuannya adalah untuk mengekang inflasi," kata Ibrahim.

2. AS diproyeksi mulai masuk fase resesi

 

Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal-II 2022 diprediksi akan terkontraksi 2,5 hingga 2,6 persen.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa Negeri Paman Sam memasuki fase resesi.

"Tinggal satu lagi di kuartal-III, kalau di kuartal ketiga terjadi kontraksi maka AS resmi resesi. Nah ini yang ditakutkan pasar, sehingga apa? Dolar terus mengalami penguatan. Ada kemungkinan (indeks) dolar itu akan ke 108. Ini level tertinggi sepanjang masa," ujar Ibrahim.

3. Inflasi dalam negeri di luar ekspektasi

Di sisi lain, faktor dalam negeri juga turut melemahkan rupiah di hadapan dolar AS. Faktor utamanya adalah inflasi yang di luar ekspektasi banyak pihak pada Juni 2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 4,35 persen (yoy) pada Juni 2022 atau sedikit lebih tinggi dari proyeksi empat persen plus minus satu persen. Realisasi ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.

Menurut Ibrahim, hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan harga-harga komoditas di tingkat global berdampak terhadap harga komoditas di Indonesia dan membuat inflasi tinggi di dalam negeri.

"Pemerintah mengatakan inflasi 2022 kemungkinan besar 4,5 persen sementara di APBN dipatok inflasi dua sampai empat persen. Ini yang membuat rupiah tergerus di atas Rp15 ribu," kata dia.

Recommend

Load failed