Harga CPO Kian Melorot 6 Persen Lebih, Ternyata Ini Sebabnya

Sindonews · 13 Jul 2022 1.6K Views
Harga CPO Kian Melorot 6 Persen Lebih, Ternyata Ini Sebabnya
JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) merosot 6% lebih pada perdagangan sesi siang hari ini. Mengacu Bursa Malaysia Derivatives Berhad (BMD), Rabu (13/7/2022) hingga pukul 12:52 WIB, harga CPO kontrak teraktif September 2022 turun 6,70% di MYR3.840 per ton, dari hari sebelumnya di MYR4.116 per ton.

Sedangkan kontrak Agustus 2022 juga anjlok 7,04% di MYR3.812 per ton, dari MYR4.101 per ton. Malaysia mencatat kenaikan persediaan minyak sawit pada akhir Juni 2022, yang mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Ini terjadi akibat persaingan yang cukup ketat dari Indonesia -selaku produsen CPO terbesar dunia- yang tengah menggenjot ekspor. Sedangkan surveyor kargo Malaysia mencatat ada penurunan ekspor pada periode 1 - 10 Juli 2022 di kisaran 15% - 21%, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (13/7).

Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) melaporkan persediaan minyak sawit Malaysia akhir Juni melesat 8,8% dari bulan sebelumnya menjadi 1,66 juta ton karena produksi minyak sawit mentah naik 5,8% menjadi 1,55 juta ton di Juni.

Diterangkan kekhawatiran akan resesi dan penurunan harga minyak mentah juga membebani harga CPO pada Selasa (12/7), kemarin. Di sisi lainnya, pada pekan lalu, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan kandungan bahan bakar berbasis minyak sawit dalam biodieselnya menjadi 35% dari 30%, atau yang di kenal sebagai B35 dan akan dimulai pada 21 Juli 2022.

Lebih jauh, harga minyak nabati lain juga ikut merosot, seperti minyak kedelai di Bursa Dalian China anjlok 5,3%, dan di Chicago Board of Trade juga koreksi 0,6%. Harga CPO dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait karena mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global.

Sebagai produsen terbesar, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan mencatatkan surplus sebesar USD3,52 miliar pada Juni 2022, yang didorong oleh pencabutan larangan ekspor minyak sawit selama tiga minggu.

Jajak pendapat yang disurvei oleh Reuters mencatat Indonesia diproyeksikan bakal menikmati ledakan ekspor yang didukung oleh kenaikan harga komoditas. Perkiraan median dari 18 analis memperkirakan ekspor Indonesia tumbuh 30,26% secara tahunan di bulan Juni, naik sedikit dari 27% di bulan Mei.

Sementara impor bulan Juni diprediksi naik 20,10% secara tahunan, dibandingkan dengan kenaikan 30,74% di bulan Mei.

Recommend