Inflasi AS Sentuh 9,1 Persen, Begini Dampaknya Terhadap Ekonomi Indonesia

inews · 14 Jul 2022 1.1K Views

JAKARTA, iNews.id - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyebut bahwa inflasi di Amerika Serikat (AS) perlu diwaspadai karena ada dua jalur transmisi yang dapat berimbas ke negara lain. Inflasi AS pada Juni kembali melejit mencapai 9,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) sekaligus yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir. 

Menurutnya, pertama adalah jalur moneter, di mana inflasi yang tinggi akan menciptakan suku bunga yang semakin meningkat dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). 

"Ini akan membuat dolar AS semakin perkasa bahkan terhadap Euro, terhadap mata uang dominan lainnya, apalagi terhadap nilai tukar rupiah. Jadi dalam beberapa pekan ke depan rupiah diperkirakan akan bergejolak," ujar Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Kamis (14/7/2022). 

Bhima memprediksi Rupiah akan melemah dan arus modal asing akan semakin deras keluar. Hal tersebut juga akan bergantung pada respon Bank Indonesia (BI). Misal, kata Bhima, apakah BI akan melakukan langkah dengan menaikan suku bunga. 

"Berapa basis poin (kenaikannya)? Nah itu yang akan jadi pertanyaan besar," kata dia.

Kedua adalah jalur perdagangan. Bhima menyebut, jika inflasi AS naik berarti kinerja ekspor untuk tujuan AS bisa terganggu. Lalu, konsumsi rumah tangga di AS daya belinya turun, sehingga mempengaruhi permintaan barang-barang yang ada di Indonesia. 

"Jadi kalau kita lihat AS sebagai mitra dagang yang utama, maka ini akan bisa mempengaruhi neraca perdagangan dalam semester ke-II/2022," ucap Bhima.

 

Recommend