Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 15 Juli 2022

Bisnis · 15 Jul 2022 725 Views

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini, Jumat (15/7/2022) diprediksi masih melanjutkan pelemahan setelah berakhir melampaui level psikologis Rp15.000 per dolar AS pada perdagangan kemarin.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Kamis (14/7/2022), mata uang Garuda ditutup melemah 0,19 persen atau turun 28,5 poin sehingga parkir di posisi Rp15.020 per dolar AS. Pelemahan tersebut juga sejalan dengan mata uang Asia lainnya.

Greenback diprediksi akan terus naik karena mendapat manfaat dari prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve yang lebih tinggi daripada bank sentral global lainnya, termasuk Bank Sentral Eropa.

Menguatnya indeks dolar terjadi di tengah laporan inflasi AS pada Juni yang mencapai 9,1 persen, jauh dari estimasi Wall Street sebesar 8,8 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan Indonesia cenderung masih jauh dari resesi, ditopang oleh fundamental ekonomi yang yang kuat. Terlebih, komoditas unggulan ekspor seperti batu bara dan minyak sawit cenderung meningkat sehingga menambah penerimaan negara.

“Walaupun beban subsidi sangat berat untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun dengan bauran strategi ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia terus bisa mengendalikan lonjakan harga dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar obligasi melalui perdagangan non-deliverable forward (DNDF),” katanya dalam riset, Kamis (14/7/2022).

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.010-Rp15.060 per dolar AS.

Dari sentimen global, suku bunga pinjaman overnight China di pasar antar bank turun menjadi 1,17 persen minggu ini, terendah sejak Januari 2021, memperluas spread dengan benchmark obligasi China tenor lima tahun menjadi yang terbesar dalam lebih dari setahun.

Mengutip Bloomberg, Jumat (15/7/2022), perbedaan imbal hasil tersebut dapat memberi investor return sebanyak 1,4 persen. Volume perdagangan yang mendekati rekor tertinggi untuk kontrak pembelian kembali menyoroti popularitas perdagangan tersebut.

Bank Rakyat China (PBOC) memangkas operasi likuiditas jangka pendek hariannya mulai bulan ini, sebuah keputusan yang dilihat para analis sebagai pergeseran dari pelonggaran kebijakan krisis di tengah tanda-tanda peningkatan pertumbuhan. Namun, mereka tidak mengharapkan likuiditas cukup ketat untuk menghambat perdagangan karena PBOC memprioritaskan peningkatan ekonomi yang dilanda Covid.

Recommend