Singapura (ANTARA) - Harga minyak naik di awal perdagangan Asia pada Jumat pagi, di tengah ketidakpastian seputar seberapa agresif Federal Reserve AS dalam menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik 80 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 99,90 dolar AS per barel pada pukul 00.07 GMT. Sementara itu, minyak mentah WTI naik 69 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 96,47 dolar AS per barel.

Pembuat kebijakan The Fed yang paling hawkish pada Kamis (14/7/2022) mengatakan mereka lebih menyukai kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan kebijakan bank sentral AS bulan ini, bukan kenaikan suku bunga yang lebih besar yang telah diperebutkan oleh para pedagang setelah sebuah laporan pada Rabu (13/7/2022) menunjukkan inflasi semakin cepat.

Kenaikan suku bunga Fed diperkirakan akan mengikuti langkah serupa oleh bank sentral Kanada, yang mengejutkan pasar pada Rabu (13/7/2022) dengan kenaikan 100 basis poin.

Ketidakpastian kenaikan suku bunga, bersama dengan data ekonomi yang lemah, menyebabkan kedua kontrak acuan turun pada satu tahap pada Kamis (14/7/2022) di bawah penutupan 23 Februari, sehari sebelum Rusia menginvasi Ukraina dalam apa yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus". Namun, baik Brent maupun WTI telah memulihkan hampir semua kerugian pada akhir sesi perdagangan.

Presiden AS Joe Biden pada Jumat akan terbang ke Arab Saudi, di mana ia akan menghadiri pertemuan puncak sekutu Teluk dan meminta mereka untuk memompa lebih banyak minyak.

Namun, kapasitas cadangan di anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) hampir habis, dengan sebagian besar produsen memompa pada kapasitas maksimum, dan tidak jelas berapa banyak tambahan yang dapat dibawa Arab Saudi ke pasar dengan cepat.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022