Rupiah Dibuka Menguat ke Rp15.008 per Dolar AS

Bisnis · 15 Jul 2022 1.9K Views

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (15/7/2022). Di sisi lain mata uang lain di kawasan Asia mayoritas terpantau melemah.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terpantau dibuka menguat 11,50 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp15.008,50 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,04 persen ke posisi 108,4990.

Selain rupiah, mata uang lain di kawasan Asia lain yang dibuka menguat diantaranya yuan China naik 0,22 persen, dolar Singapura naik 0,14 persen, dan yen Jepang yang naik 0,10 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, won Korea Selatan terpantau anjlok 0,96 persen, peso Filipina turun 0,31 persen, dolar Taiwan turun 0,11 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,08 persen terhadap dolar AS di pagi ini.

Sebelumnya, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya mengatakan Indonesia cenderung masih jauh dari resesi, ditopang oleh fundamental ekonomi yang yang kuat.

Terlebih, komoditas unggulan ekspor seperti batu bara dan minyak sawit cenderung meningkat sehingga menambah penerimaan negara.

“Walaupun beban subsidi sangat berat untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun dengan bauran strategi ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia terus bisa mengendalikan lonjakan harga dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar obligasi melalui perdagangan non-deliverable forward (DNDF),” katanya dalam riset, Kamis (14/7/2022).

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.010-Rp15.060 per dolar AS.

Dari sentimen global, suku bunga pinjaman overnight China di pasar antar bank turun menjadi 1,17 persen minggu ini, terendah sejak Januari 2021, memperluas spread dengan benchmark obligasi China tenor lima tahun menjadi yang terbesar dalam lebih dari setahun.

Mengutip Bloomberg, Jumat (15/7/2022), perbedaan imbal hasil tersebut dapat memberi investor return sebanyak 1,4 persen. Volume perdagangan yang mendekati rekor tertinggi untuk kontrak pembelian kembali menyoroti popularitas perdagangan tersebut.

Bank Rakyat China (PBOC) memangkas operasi likuiditas jangka pendek hariannya mulai bulan ini, sebuah keputusan yang dilihat para analis sebagai pergeseran dari pelonggaran kebijakan krisis di tengah tanda-tanda peningkatan pertumbuhan.

Namun, mereka tidak mengharapkan likuiditas cukup ketat untuk menghambat perdagangan karena PBOC memprioritaskan peningkatan ekonomi yang dilanda Covid.

Recommend