Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah, Hati-Hati Dolar AS Rebound

Bisnis · 19 Jul 2022 1.1K Views

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (19/7/2022), sejalan dengan mata uang di kawasan Asia lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terpantau dibuka melemah 9,5 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.990,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS pada pukul 09.01 WIB menguat 0,15 persen atau 0,16 poin ke posisi 107,44.

Selain rupiah, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia Pasifik juga melemah di antaranya yuan China turun 0,15 persen, yen Jepang yang turun 0,04 persen, dan peso Filipina melemah 0,02 persen terhadap dolar AS.

Baht Thailand juga melemah 0,11 persen terhadap dolar AS. Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,01 persen terhadap greenback.

Indeks dolar berbalik menguat setelah dalam perdagangan kemarin melemah. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi sebelumnya mengatakan bahwa dolar AS turun pada Senin disebabkan ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga agresif dari Federal Reserve AS juga surut karena data penjualan ritel inti AS yang kuat.

Investor juga mengawasi inflasi AS dan kemungkinan resesi yang disebabkan oleh pengetatan moneter. Ekspektasi Inflasi 5 Tahun Michigan Amerika Serikat yang dirilis pada hari Jumat turun menjadi 2,8 persen untuk Juli dari 3,1 persen pada Juni.

Pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa mereka akan tetap pada kebijakan kenaikan suku bunga 75 basis poin selama pertemuan mereka pada 26–27 Juli 2022 untuk menurunkan inflasi.

Dari sisi internal, ada 15 daftar negara yang berpotensi mengalami resesi ekonomi dan Indonesia berada pada urutan ke 14. Namun, jika dilihat dari kondisi ekonomi saat ini, kemungkinan Indonesia mengalami resesi sangat kecil karena Indonesia terus menjaga momentum pemulihan ekonominya setelah Covid-19 dengan berbagai instrumen kebijakan yang relatif aman.

“Perlu untuk kita ketahui inflasi di negara-negara maju dan negara berkembang saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh disrupsi global saja. Sebagian besar disebabkan oleh kebijakan internal negara masing-masing,” ungkap Ibrahim dalam riset harian, Senin (18/7/2022).

Sementara itu, inflasi global sudah dimulai sejak masa pandemi Covid-19 ketika pemerintah di masing-masing negara mulai menyuntikkan paket stimulus ke dalam ekonominya. Permintaan menjadi naik namun dari sisi rantai pasokan masih terganggu sehingga harga komoditas menjadi tinggi.

Kemudian, diperparah dengan adanya perang Rusia-Ukraina karena Rusia adalah salah satu negara eksportir minyak terbesar di dunia dan Ukraina adalah salah satu negara pengekspor gandum dan minyak biji matahari.

Di Indonesia, walaupun harga minyak dunia meningkat namun pemerintah masih belum menaikkan harga BBM bersubsidi, begitu juga dengan pangan.

Walaupun Indonesia merupakan pengimpor gandum namun dampaknya tidak secara langsung terasa pada harga-harga komoditas yang menggunakan bahan baku gandum seperti Mie instan dan roti.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp14.960—Rp15.010 per dolar AS.

Recommend