Jelang Hasil RDG BI, Nilai Tukar Rupiah Loyo terhadap Dolar AS

Bisnis · 21 Jul 2022 915 Views

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (21/7/2022), menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia mengenai tingkat suku bunga.

Nilai tukar rupiah terpantau dibuka melemah 3,0 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.992,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS pada pukul 09.00 WIB melemah dengan koreksi 0,06 persen atau 0,06 poin ke posisi 106,85.

Selain rupiah, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia Pasifik juga melemah. Di antaranya yen Jepang sebesah 0,07 persen, yuan China 0,13 persen, dan baht Thailand melemah 0,21 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, segelintir mata uang Asia yang terpantau menguat adalah dolar Hong Kong 0,01 persen dan dolar Singapura yang terapresiasi 0,03 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan menjelang pertemuan The Fed minggu depan, pasar memperkirakan peluang 23,2 persen dari kenaikan suku bunga 100 basis poin, dengan ekspektasi pelonggaran kenaikan suku bunga jumbo.

Dari sisi internal, Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2022. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun para analis, pasar terbelah dua dengan sebagian menginginkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen.

Selain itu, terdapat yang menginginkan BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5 persen. Namun mempertahankan suku bunga acuan merupakan solusi BI bulan ini walaupun sebagian analis yang memperkirakan kenaikan BI-7DRR menjadikan stabilitas rupiah sebagai salah satu faktor tren kenaikan suku bunga acuan di tingkat global.

"Sementara di sisi lain BI masih memberlakukan kebijakan dovish menjadi salah satu penyebab investor asing meninggalkan Indonesia. Derasnya capital outflow membuat rupiah tertekan," jelas Ibrahim.

Faktor lain yang membuat BI akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini adalah inflasi yang masih terjaga. Laju kencang inflasi Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor suplai. Inflasi akan melandai jika pasokan kembali normal.

Adapun faktor lain yang mendorong rupiah di antaranya surplus besar pada neraca perdagangan. Hal ini akan membantu kinerja transaksi berjalan sehingga tekanan kepada nilai tukar bisa berkurang.

Neraca perdagangan tercatat membukukan surplus sebesar US$5,09 miliar. Secara keseluruhan, surplus pada semester 0ertama 2022 menembus US$24,89 miliar. Pencapaian tersebut adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.

Adapun, neraca transaksi berjalan pada kuartal kedua 2022 diperkirakan tercatat surplus. Surplus neraca transaksi berjalan Indonesia sejak kuartal kedua 2021 ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas, mengindikasikan bahwa kondisi keseimbangan eksternal tetap solid sehingga tetap akan mendukung stabilitas rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp14.970—Rp14.090.

Recommend